Terapi Realitas Dalam Konseling

Pengantar

Dewasa ini kita diperhadapkan dengan berbagai krisis kehidupan. Beban yang harus dipikul oleh sementara orang terasa begitu berat sebagai akibat dari persoalan yang datang silih berganti seakan-akan tiada akhirnya. Peristiwa-peristiwa seperti: bencana alam, krisis ekonomi berkepanjangan, ketiadaan lapangan pekerjaan, pemutusan hubungan kerja (PHK), persoalan rumah tangga serta seabrek persoalan kehidupan lainnya merupakan realitas yang tidak bisa disangkal. Situasi demikian diperburuk oleh melambungnya harga barang dan jasa, sementara rendahnya daya beli maupun merosotnya nilai mata uang kita semakin menambah berat beban hidup masyarakat kelas bawah. Belum lagi masalah pemukiman dan kebutuhan primer masyarakat miskin di kota-kota besar yang acapkali datang bersamaan. Bayangkan saja, jika sebuah keluarga miskin yang bermukim di kota besar suatu ketika harus menghadapi kenyataan masa kontrak rumahnya berakhir atau digusur; pada saat bersamaan ia sedang menganggur, anggota keluarganya ada yang sakit sedangkan kebutuhan makan-minum pun tidak ada lagi.

Realitas kehidupan seperti ini menyebabkan banyak orang yang mengalaminya mengambil jalan pintas, menghalalkan segala cara, masa bodoh dan apatis, pesimis menghadapi hari esok. Bermacam-macam perilaku yang tidak bertanggungjawab disertai tindak kriminalitas merupakan hal yang mudah terjadi dalam masyarakat. Tak jarang pula ada yang harus mengalami gangguan emosional seperti, putus asa, stress. depresi, bunuh diri untuk mengakhiri kekalutan hidupnya.

Beberapa kasus dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa ketidaksiapan menerima realitas menimbulkan persoalan spiritual dan psiko- emosional. Dua belas pengintai yang diutus Musa untuk mengamat-amati keadaan tanah Kanaan, menemukan realitas yang faktual mengenai penduduk negeri, kota-kotanya serta hasil buminya. Sepuluh orang pengintai itu, selain Kaleb dan Yosua, kemudian menimbulkan kepanikan dan ketakutan luar biasa di antara umat. Bangsa Israel kemudian bersungut-sungut melawan Musa dan Allah (Bil. 13-14:38). Realitas telah mempengaruhi perilaku mereka. Dengan begitu kecemasan, ketakutan, sungut-sungut dan pemberontakan lantas mewarnai keadaan umat Israel secara keseluruhan.

Kisah lain dapat kita simak dari Perjanjian Baru, yakni penyangkalan Simon Petrus. Ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa seorang hamba perempuan yang menyebut dia sebagai salah seorang dari murid-murid Yesus, ia pun menyangkal (Luk.22: 54-62). Petrus tidak sanggup mempertahankan tekadnya untuk membela sang Rabbi (Mat. 26:31-35), karena realitas memang amat berbeda dengan sekedar tekad yang membara. Perilaku Petrus pun berubah seiring dengan peristiwa itu. Ia yang dahulunya bereaksi spontan dan terkesan pemberani, kini tak ubahnya dengan seorang pria melankolik yang harus menangisi kegagalannya.

Alkitab sepanjang masa telah melukiskan beragam krisis kehidupan yang dialami oleh umat Israel. Kendati demikian kepada mereka senantiasa ditawarkan jalan keluar melalui nabi-nabi yang diutus untuk memberikan teguran, nasihat dan pertolongan. Salah satu diantaranya dengan cara mengingatkan mereka untuk berani menghadapi kenyataan sebagai sebuah konsekuensi perbuatan di masa lalu maupun sebagai sebuah tawaran agar mereka menemukan jalan keluar yang harus ditempuh.

Penggunaan Terapi Realitas (Reality Therapy) Dalam Konseling

Jika konseling dipandang sebagai sebuah proses pertolongan kepada konseli agar mampu mengatasi persoalan yang dihadapinya, maka kita dapat menggunakan sumber-sumber maupun instrumen konseling yang memadai untuk tujuan dimaksud. Dari antara sejumlah metode terapi dan konseling yang telah dirumuskan oleh para ahli, salah satu di antaranya yang dapat digunakan dalam konteks ini adalah terapi realitas (reality therapy) Terapi realitas dapat digunakan sebagai alternatif pelayanan kepada anggota jemaat yang bermasalah. Tentu dengan menyeleksi unsur-unsur positif yang terkandung di dalamnya dan menyingkirkan pokok pemikiran yang tidak sesuai dengan iman Kristen.

Sehubungan dengan hal itu, Gerald Corey dalam bukunya, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, mengatakan bahwa terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di kalangan konselor sekolah, para guru dan pimpinan sekolah dasar dan menengah, dan para pekerja rehabilitasi.

Sedangkan menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsiblility).

Individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi seseorang adalah mencoba menggantikan dan melakukan intensi untuk masa depan. Seorang terapis bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu hal penting kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya dan mengenakan perilaku yang baru. Dalam hal ini terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya.

Pokok-Pokok Pemikiran Terapi Realitas

  1. Pendapat tradisional yang beranggapan bahwa seseorang berperilaku tidak bertanggungjawab disebabkan oleh gangguan mental ditolak oleh Glasser. Justru ia berpendapat bahwa orang mengalami gangguan mental karena ia berperilaku tidak bertanggungjawab. Terapi realitas menekankan pada masalah moral antara benar dan salah yang harus diperhadapkan kepada konseli sebagai kenyataan atau realitas. Terapi realitas menekankan pertimbangan menyangkut nilai-nilai. Ia menekankan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat pada tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya.
  2. Pengalaman masa lalu diabaikan karena terapi realitas mengarahkan pandangan penilaiannya pada bagaimana perilaku saat ini dapat memenuhi kebutuhan konseli. Dengan kata lain terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Meskipun tidak menganggap perasaan dan sikap tidak penting, tetapi terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapi realitas adalah proses pengajaran (teaching process) dan bukan proses penyembuhan (healing process). Itu sebabnya terapi realitas sering menggunakan pula pendekatan kognitif dengan maksud agar konseli dapat menyesuaikan diri terhadap realitas yang dihadapinya.
  3. Faktor alam bawah sadar sebagaimana ditekankan pada psiko-analisis Freud tidak diperhatikan karena Glasser lebih mementingkan “apa” daripada “mengapa”-nya.
  4. Terapi realitas menolong individu untuk memahami, mendefinisikan, dan mengklarifikasi tujuan hidupnya.
  5. Terapi realitas menolak alasan tertentu atas perbuatan yang dilakukan. Misalnya, orang yang mencuri tidak boleh beralasan bahwa ia terpaksa atau kepepet, dsb.
  6. Terapi realitas transferensi yang dianut konsep tradisional sebab transferensi dipandang suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi.. Terapis bisa menjadi orang yang membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sekarang dengan membangun suatu hubungan yang personal dan tulus.

Penggunaan Terapi Realitas dalam Pelayanan Konseling Kristen

Paul Meier, dkk., mengatakan bahwa terapi realitas tampaknya memiliki pengaruh yang besar terhadap konseling Kristen karena menekankan tanggung jawab individu dan berusaha membedakan apa yang benar dan salah. Para psikoterapis umumnya hanya menyerukan dengan lantang kepada konseli untuk menghadapi kenyataan, melakukan yang terbaik dan bertanggungjawab, namun mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar klien. Karena itu seorang konselor Kristen, juga berusaha memenuhi kebutuhan dasar konseli: kasih dan rasa berharga (love and self-worth).

Apabila kebutuhan-kebutuhan konseli sebagaimana dikemukakan di atas merupakan tujuan yang hendak dicapai dalam terapi realitas maka hal itu sedikit banyak dapat tercapai bila dilakukan oleh para pelayan Tuhan dan konselor Kristen. Oleh karena hanya melalui relasi yang intim dengan Yesus Kristus, seorang konselor dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia. Kasih tanpa syarat kepada konseli bukan kasih yang bersifat temporer dan situasional; bukan hanya kasih karena keprihatinan kita kepada klien sebagai sesama kita (filia) melainkan harus dilandasi kasih yang rela menerima apa adanya tanpa tendensi balas budi atau pamrih. Itu sebabnya kasih agape yang bersumber dari Allah itulah yang memungkinkan seorang konselor Kristen secara efektif dapat memainkan peranannya dengan melihat seginifikansi terapi realitas dalam konseling Kristen..

Sebagaimana ditekankan oleh Gary Collins bahwa umat Kristen merupakan sebuah kelompok terapis, tidak hanya terbatas pada pertemuan-pertemuan antara sesama konseli atau antara konseli dengan konselor yang terlatih, tetapi mencakup para keluarga, kelompok studi, sahabat yang dapat dipercaya, rekan profesional, kelompok karyawan mapun sejmlah orang yang seringkali menyediakan bantuan yang diperlukan baik pada masa-masa krisis, maupun pada saat individu menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Orang-orang percaya dalam gereja lokal dapat memberikan dukungan (support) kepada anggota-anggotanya, menyembuhkan mereka yang sedang menghadapi masalah, serta membimbing orang ke arah pengambilan keputusan untuk melangkah maju ke arah kedewasaan iman.

Berdasarkan pemikiran tersebut maka signifikansi selektif terapi realitas yang dapat digunakan dalam pelayan konseling Kristen, antara lain:

  1. Perubahan perilaku. Glasser beranggapan bahwa perilaku yang tidak bertanggungjawab dari seorang konseli sebagai penyebab gangguan mental sebenarnya sejalan dengan asumsi konseling Kristen. Larry Crabb mengatakan bahwa manusia bertanggungjawab untuk percaya pada kebenaran yang akan menghasilkan perilaku yang bertanggungjawab yang akan menyediakan baginya makna, pengharapan dan kasih yang berfungsi sebagai penuntun kepada hidup yang lebih efektif dengan orang lain sebagaimana dengan dirinya sendiri. Crabb lebih lanjut mengatakan bahwa manusia tidak bertanggungjawab dalam hidupnya karena berusaha untuk mempertahankan diri terhadap rasa tidak aman dan tidak signifikan (Ams. 23:7). Kebutuhan akan rasa aman: kasih tanpa syarat, diterima telah dijamin oleh Allah dalam Kristus Yesus. Perubahan perilaku ditekankan oleh Rasul Paulus agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubah oleh pembaruan budi, sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna (Roma 12: 2).
  2. Berpatokan pada nilai benar dan salah. Konseling terhadap individu yang mengalami berbagai persoalan kehidupan dewasa ini harus tetap berpatokan dan menjunjung tinggi nilai benar dan salah. Agaknya persoalan etis tidak diabaikan dalam konsep terapi realitas. Sebab itu dalam pelayanan konseling Kristen bilamana terindikasi bahwa persoalan diakibatkan oleh masalah etika dan tatanilai, maka konseli harus didorong untuk bertanggungjawab dengan memperhatikan nilai benar dan salah. Bilamana persoalan yang dialaminya diakibatkan oleh dosa maka ia patut dibimbing untuk memohon pengampunan dari Kristus dan tidak menjadikan gangguan mental sebagai alasan untuk melanjutkan perilaku keberdosaannya (1 Yoh.1:7-9; Kis.5:1-11).
  3. Pengalaman masa lalu konseli tidak boleh dijadikan alasan dalam menghadapi realitas kehidupan. Terapi realitas menolak mengaitkan masa lalu dengan rasa bersalah (guilty feelings), maka hal ini merupakan sesuatu yang positif agar konseli berani melangkah menghadapi kenyataan sekarang. Demikian pula masa lalu seseorang yang meninggalkan trauma bisa dihindari dengan cara konselor membantu konseli untuk melupakan pengalaman buruk di masa lampau (Fil.3:13-14). Misalnya, orang yang pernah mengalami pemutusan hubungan kerja harus ditolong untuk menyingkirkan trauma itu. Ia tidak boleh beranggapan bahwa bila bekerja lagi pasti akan kena PHK sehingga ia memilih untuk berdiam diri dan menyesali nasib. Konselor perlu memotivasinya untuk mencari pekerjaan baru demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Kegagalan di masa lampau tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari realitas kehidupan. Meskipun begitu, Gary Colins mengingatkan bahwa pengalaman-pengalaman hidup masa lalu (past life experiences), terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi di usia dini, acapkali menambah angka stress yang menimbulkan suatu krisis. Sebagai seorang konselor, kita harus menolong konseli untuk memahami bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengontrol jalan hidupnya, tetapi ia tidak harus dibanjiri oleh perasaan ketiadaan harapan dan tidak bisa ditolong.
  4. Terapi realitas menolak alasan pembenaran terhadap perbuatan tertentu sangat positif untuk dijadikan perhatian dalam konseling Kristen. Kecenderungan untuk mencari kambing hitam dengan menuding orang lain atau mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatannya harus ditolak. Contoh, seorang suami yang berselingkuh dengan wanita lain tidak selayaknya menggunakan alasan “khilaf” untuk membenarkan perbuatannya. Ia tidak boleh menjadikan kekurangan istrinya, atau ketidak-harmonisan rumahtangga sebagai alasan perbuatan yang dilakukannya.
  5. Pemikiran terapi realitas yang memfokuskan upaya pertolongan kepada konseli agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dirinya perlu dikembangkan dalam konseling Kristen. Sebagai contoh, orangtua yang tidak mampu secara ekonomi dan finansial untuk menyekolahkan anak-anaknya kerap tidak mau menerima dirinya sebagai orang yang kurang mampu demi gengsi. Bahkan ia akan menolak bantuan yang diberikan dengan tulus oleh pihak lain (donatur, diakoni gereja, dll.) terhadap dirinya atau keluarganya. Konseli seperti ini perlu disadarkan akan pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri dan terbuka terhadap pertolongan Tuhan yang disalurkan melalui orang lain.
  6. Melalui terapi realitas konseli dibantu untuk merubah cara berpikir dan paradigma lama yang dianutnya dengan kukuh. Cara berpikir, paradigma yang dianut, serta sikap kaku yang cenderung menutup diri terhadap realitas yang tumbuh dan berkembang di sekitar kita acapkali menjadi pemicu lahirnya berbagai konflik menyangkut sistem nilai, dan sebagainya.
  7. Oleh karena terapi realitas juga menggunakan teknik konfrontasi, yang sejalan dengan konseling nouthetis sebagaimana digunakan secara luas oleh Jay Adams, maka hal ini dapat digunakan dalam mengkonseling klien yang mengalami persoalan karena dosa. Konfrontasi diharapkan dapat mengoreksi kesalahan konseli dan membantu dia mengubah perilaku berdasarkan pengajaran yang diberikan kepadanya.

Terapi realitas yang menekankan kelakuan konseli yang bertanggungjawab terhadap realitas, perbuatan baik dan tanggungjawab; pada dasarnya erat kaitannya dengan pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia yang dibuat oleh Abraham Maslow, sebagaimana dikutip oleh Larry Crabb, yaitu:

  • kebutuhan fisik (physical): adalah unsur-unsur penting untuk memelihara kehidupan fisik manusia (makan-minum,tempat tinggal, dsb).
  • Rasa aman (security/physical security): kayakinan bahwa kebutuhan fisik kita akan tersedia pada hari esok.
  • Kasih (love): yang disebut rasa aman oleh Crabb.
  • Tujuan: signifikansi (Crabb)
  • Aktualisasi diri: ekspresi kualitas terbaik manusia: mengembangkan diri secara penuh, kreatif, ekspresi diri pribadi.

Menurut Crabb, semua kebutuhan tersebut di atas telah disediakan oleh Allah Bapa. Orang Kristen menempuh perjalanan untuk memperolah kebutuhan 1-4 dengan roda iman: kebutuhan fisik (Mat. 6:33); rasa aman (Mat.6:34; Fil.4:6;19); kebutuhan akan kasih (Roma 8:35,39); tujuan/signifikansi ( Fil. 1:21; Ef.2:10; Mzm. 103:4).

Dalam mengadopsi terapi realitas para konselor Kristen hendaknya tetap berpatokan pada Alkitab sebagai dasar proses konseling. Terapi realitas menjadi instrumen pendukung di mana konseli ditolong untuk meninggalkan pengalaman masa lalu yang merupakan penghalang baginya agar mampu bangkit untuk menyongsong masa depan yang disediakan Tuhan. Sebagaimana pengalaman Yeremia yang terus menerus meratap dan berdukacita atas hukuman yang datang silih berganti atas umat Tuhan, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23). Ketika Yeremia mencoba berdiri di masa lalu maka yang ia hadapi adalah kesengsaraan dan tekanan dalam diri/tekanan batin (Rat.3:19-20). Namun pada saat ia menyadari hal itu dan mulai beralih pada sikap penuh harap dan optimis (Rat.3:21) , maka ia akhirnya melihat realitas penyertaan dan pemeliharaan Tuhan.

Dengan menggunakan terapi realitas seorang konselor Kristen menolong konseli untuk dapat mengatasi persoalan kehidupan yang dihadapi dan secara bertanggungjawab melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya berdasarkan realita yang dihadapinya. Dengan begitu maka diharapkan akan terjadi pemulihan dalam diri konseli untuk kembali menemukan signifikansi dan aktualisasi diri sebagai umat Tuhan yang berharga di mata-Nya (Yes. 43:4).

Upaya pertolongan demikian dapat diberikan kepada anggota jemaat yang sedang menghadapi kesulitan. Sebagai contoh, pertolongan yang hendak dilakukan oleh seorang konselor Kristen terhadap seorang suami yang sedang tidak memiliki pekerjaan. Kepada klien tersebut dibimbing untuk menerima kenyataan bahwa ia sedang tidak bekerja (jobless) sehingga dengan sendirinya ia tidak memiliki penghasilan pula. Di sisi lain ia harus diingatkan untuk bertanggungjawab terhadap anggota keluarganya. Hal terbaik yang dapat dilakukannya adalah mencari pekerjaan atau melakukan pekerjaan apa saja, yang penting halal untuk menghidupi keluarganya. Sementara proses pertolongan demikian dilakukan, seorang konselor Kristen pada waktu bersamaan membangun kembali identitas diri sang suami agar ia tidak merasa minder, tidak mandek (burn-out) apalagi merasa tidak berguna lagi sebagai seorang suami yang gagal menghidupi keluarganya. Gereja merupakan tempat di mana kebutuhan sosial orang tersebut dipenuhi. Seorang konselor Kristen menjadi mediator baginya untuk menghubungkan dengan anggota jemaat yang memiliki peluang untuk merekrut atau mempekerjakan orang tersebut. Atau paling tidak ia dapat menghubungkan dengan pihak-pihak lain yang kemungkinan bisa menolongnya keluar dari krisis kehidupan yang dialaminya.

Dalam pelayanan contoh kasus yang dapat ditangani melalui terapi realitas beraneka ragam. Misalnya: seorang mahasiswa teologi yang suka menyontek, harus bertanggungjawab atas perilakunya dengan menerima sanksi akademis tertentu dan berjanji untuk tidak mengulanginya di masa mendatang. Ia harus menyadari pula bahwa hal menyontek adalah salah (dosa). Seorang pendeta yang temperamental harus menerima kenyataan bahwa jemaatnya pindah ke gereja lain, atau menerima kenyataan bahwa ia tidak dikasihi oleh jemaatnya. Ia harus merubah perilaku tersebut dengan mencontoh Tuhan Yesus sebagai figur Gembala Yang Baik.

Pada kasus lain di mana seorang mantan direktur yang jatuh bangkrut, diliputi oleh rasa putus asa sehingga tidak lagi mau melakukan apapun demi kehidupannya dan keluarganya. Permasalahannya adalah bahwa ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia sekarang miskin, bukan lagi direktur yang memiliki segala-galanya. Gaya hidupnya masih ingin dipertahankan sebagai orang kaya: hidup mewah, makan enak, foya-foya, dsb. Padahal ia tidak lagi memiliki penghasilan untuk yang memadai untuk mendukung gaya hidup seperti itu. Tragisnya, mantan direktur ini tidak mau menerima tawaran pekerjaan dari konselor yang ingin membantunya keluar dari krisis yang dihadapinya, bila gaji yang akan diterimanya tidak setara dengan apa yang pernah diterimanya sebagai seorang direktur. Dalam kasus ini agaknya terapi realitas sangat relevan untuk menolong klien tersebut agar dapat menerima realita yang kini berada di pelupuk matanya.

Kasus-kasus konseling sebagaimana dikemukakan di atas mewakili sekian banyak permasalahan konseling yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari akhir-akhir ini. Dalam kaitan tersebut Singgih D. Gunarsa menandaskan bahwa terapi realitas bertujuan untuk memberikan kemungkinan dan kesempatan kepada klien untuk bisa mengambangkan kekuatan-kekuatan psikis yang dimilkinya untuk menilai perilakunya sekarang dan apabila perilakunya tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, maka perlu memperoleh perilaku baru yang lebih efektif. Perilaku yang dimaksud adalah kebutuhan dasar manusia, yakni :kasih sayang dan merasa diri berguna (love & self-worth). Terapi dengan menggunakan pendekatan terapi realitas secara aktif membantu klien memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Langkah-langkah yang dilakukan dalam realitas terapi adalah membangun relasi yang hangat, pribadi dan bersahabat antara konselor dengan konseli yang diwarnai pula oleh sikap saling memahami dan menerima. Keuntungan dari terapi realitas tampaknya terletak pada jangka waktu terapi yang relatif singkat dan berurusan dengan masalah-masalah tingkah laku sadar. Konseli diperhadapkan pada keharusan mengevaluasi tingkah lakunya sendiri dan membuat pertimbangan nilai.

Di samping itu terapi realitas menekankan agar orang bertanggungjawab atas perilakunya, melihatnya secara kritis, bertanggungjawab atas perbuatannya, serta berjanji untuk mengubahnya. Konseli harus berani menghadapi situasi saat ini daripada berupaya menghindarinya dengan cara yang destruktif.

Pada masa kini gereja dan para pelayan Tuhan diperhadapkan dengan kompleksitas persoalan jemaat yang tidak jauh berbeda dengan lukisan yang dihadapi bangsa Israel. Jemaat sebagai anggota masyarakat yang juga tidak luput dari imbas krisis multi dimensi pada dasarnya membutuhkan pertolongan agar mereka mampu menghadapi kenyataan serta menemukan jalan keluar dari problema kehidupan yang melilitnya. Dalam situasi seperti ini sebagai seorang pelayan Tuhan, para konselor dan terapis harus berusaha memberikan pertolongan kepada mereka untuk berani menghadapi realitas kehidupan ini serta dapat mengatasi persoalan kehidupan yang dialaminya. Perilaku yang tidak sesuai dengan kehendak Allah perlu pula diubah yang memungkin konseli mengetahui kehendak Allah bagi dirinya. Lebih daripada semuanya itu terapi realitas merupakan sinergi antara konselor dan konseli sesuai dengan tujuan konseling Kristen yakni agar konseli menemukan kembali pemulihan jatidirinya (1 Tes. 5: 14, 23).

Kepustakaan

Collins, Gary R. Christian Counseling. A Comprehensive Guide (Waco, Texas: Word
Books, 1980).

_____________ (ed). Counseling in Times of Crisis (Dallas-London-Singapore: Word
Books, 1987).

Corey, Gerald. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (terj.) (Bandung: Eresco,
1988).

Crabb, Lawrence J. Effective Biblical Counseling (Grand Rapids-Michigan: Zondrvan
Pub. House, 1977).

Gunarsa, Singgih D. Konseling dan Psikoterapi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992)

Meier, Paul et.al. Introduction to Psychology & Counseling (Grand Rapids-Michigan:
Baker Book House, 1988).

Sumber dari Institute Alkitab Tiranus.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s